PRABUMULIH – Bagi kelompok perempuan Desa Lubuk Karet, daun nanas yang selama ini hanya menjadi bagian dari aktivitas pertanian kini mulai dilihat sebagai peluang baru. Dari seratnya, mereka belajar membuat kain menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), membuka kemungkinan lahirnya produk lokal sekaligus sumber penghasilan baru bagi masyarakat desa.
Kesempatan tersebut hadir melalui kegiatan benchmarking yang difasilitasi Pertamina Gas Operation Central Sumatera Area (OCSA) di Koperasi Miwa, Prabumulih, Sumatera Selatan, pada 20–23 September 2026. Menariknya, pengetahuan yang dibawa ke Desa Lubuk Karet bukan sekadar pelatihan baru, melainkan bagian dari proses replikasi program pemberdayaan CSR Pina Lestari yang telah berkembang dan berjalan secara mandiri di wilayah lain Pertamina Gas.
Melalui pendekatan ini, Pertamina Gas ingin memastikan praktik baik yang telah memberikan manfaat di satu wilayah tidak berhenti di sana, tetapi dapat dipelajari, dikembangkan, dan disesuaikan dengan potensi masyarakat di wilayah lainnya.
External Relation Operation West Region II Pertamina Gas, Maulana Rizky Wijaya, mengatakan replikasi menjadi salah satu pendekatan Pertamina Gas untuk memperluas manfaat program pemberdayaan masyarakat.
“Kami ingin praktik baik yang sudah berkembang dan berjalan secara mandiri di salah satu wilayah binaan Pertamina Gas dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Pengetahuan dan pengalaman tersebut kemudian kami bawa ke wilayah lain agar dapat dipelajari dan dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki masyarakat setempat,” ujar Maulana.
Selama empat hari, kelompok perempuan Desa Lubuk Karet mengikuti rangkaian pembelajaran penggunaan ATBM, mulai dari pengenalan alat, praktik menenun serat daun nanas, hingga troubleshooting sederhana. Kegiatan ini memberikan bekal bagi peserta untuk mengoperasikan dan merawat ATBM secara mandiri.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua PKK Desa Lubuk Karet, Nurul Azmi, dan Kepala Desa Lubuk Karet, Ali Azwan. Proses berbagi pengalaman juga melibatkan Ketua Koperasi Miwa, Agus Zali, serta Weniria sebagai pelatih ATBM.
Bagi Ali Azwan, kegiatan ini memberikan pengalaman baru bagi kelompok perempuan di desanya sekaligus membuka wawasan mengenai potensi yang dapat dikembangkan dari sumber daya lokal.
“Kelompok perempuan Desa Lubuk Karet sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Kami mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru yang bisa dikembangkan di desa. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak potensi desa yang bisa dimanfaatkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Ali.
Pemanfaatan serat daun nanas menjadi kain juga membuka ruang bagi perempuan desa untuk mengembangkan keterampilan produktif. Sumber daya yang sebelumnya belum banyak dimanfaatkan kini memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mendukung terciptanya alternatif sumber pendapatan bagi kelompok perempuan.
Bagi Pertamina Gas, proses tersebut menjadi bagian penting dari keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Program yang telah tumbuh dan berjalan secara mandiri di suatu wilayah dapat menjadi sumber pembelajaran bagi wilayah lainnya. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada satu kelompok atau satu lokasi, tetapi dapat terus berkembang melalui proses replikasi dan berbagi pengetahuan.
“Harapannya, kelompok perempuan di Desa Lubuk Karet nantinya dapat mengembangkan keterampilan ini secara mandiri dan menyesuaikannya dengan potensi yang ada di desa. Dengan begitu, program ini tidak hanya menjadi kegiatan pelatihan, tetapi dapat tumbuh menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat dalam jangka panjang,” lanjut Maulana.
Upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen Pertamina Gas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan keterampilan dan peluang ekonomi masyarakat, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dan pengolahan sumber daya lokal.
Melalui replikasi program, Pertamina Gas terus mendorong agar praktik baik yang telah berhasil dikembangkan masyarakat dapat menjadi inspirasi dan pengetahuan bagi kelompok lainnya. Dari satu wilayah ke wilayah lain, manfaat pemberdayaan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.









