PALEMBANG — Kualitas udara di Kota Palembang kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Konsentrasi partikulat halus PM2.5 bahkan menembus 1.036,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Kamis (22/10/2026) pukul 04.00 WIB, masuk kategori berbahaya.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan lonjakan konsentrasi PM2.5 tersebut terjadi sejak tengah malam dan bertahan pada tingkat yang mengkhawatirkan hingga pagi hari.
“Iya, kabut asap tebal kembali terjadi. Angka PM2.5 tertinggi terjadi pada pukul 04.00 WIB hingga mencapai 1.036,4 µg/m³,” ujar Wandayantolis, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan data pemantauan, konsentrasi PM2.5 di Palembang pada pukul 00.00 WIB tercatat sebesar 864,3 µg/m³. Angka tersebut sempat turun menjadi 711,6 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB, lalu kembali menurun hingga 388,4 µg/m³ pada pukul 02.00 WIB.
Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Konsentrasi PM2.5 kembali melonjak menjadi 741,7 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB, sebelum mencapai puncaknya satu jam kemudian.
Setelah itu, angkanya berangsur turun menjadi 926,3 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB, kemudian 741,4 µg/m³ dan 658,1 µg/m³ pada jam-jam berikutnya.
Meski sempat menurun, konsentrasi PM2.5 kembali meningkat menjadi 784,3 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB. Wandayantolis menyebut kualitas udara masih berada pada level berbahaya.
“PM2.5 masih konsisten pada level berbahaya hingga pukul 08.00 WIB yang mengalami kenaikan menjadi 784,3 µg/m³,” katanya.
Asap Karhutla OKI Perburuk Kualitas Udara

Manggala Agni saat memadamkan api di Tulung Selapan, OKI. Foto : Manggala Agni
Wandayantolis menjelaskan, tingginya konsentrasi partikulat halus tersebut berkaitan dengan masih maraknya kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Asap dari wilayah terdampak, terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya, turut memengaruhi kualitas udara di Palembang.
PM2.5 merupakan partikel polutan berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung.
Di tengah memburuknya kondisi udara, masyarakat diimbau mengurangi paparan langsung terhadap kabut asap. Warga sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika asap terlihat pekat, serta menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus jika harus beraktivitas di luar.
“Asap masih bersumber dari karhutla yang ada di wilayah OKI dan sekitarnya. Masyarakat tetap diimbau menggunakan masker untuk mengurangi dampak terpapar asap secara langsung dan mengurangi aktivitas luar ruangan,” jelasnya.









