Lubuk Linggau — Upaya pengendalian banjir di Kota Lubuklinggau kini diarahkan pada penguatan peran wilayah paling dekat dengan masyarakat. Dalam rapat koordinasi (rakor) yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel dan seluruh camat se-Kota Lubuklinggau, muncul strategi baru yang menempatkan camat sebagai garda terdepan dalam penanganan bencana.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sumsel, M. Iqbal Alisyahbana menegaskan pentingnya optimalisasi peran camat sebagai kepala wilayah yang memahami kondisi riil di lapangan. Menurutnya, camat tidak hanya berfungsi sebagai administrator pemerintahan, tetapi juga menjadi aktor kunci dalam mitigasi hingga respons cepat saat bencana terjadi.
“Camat adalah pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Dengan peran yang dimaksimalkan, penanganan bencana bisa lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi,” ujarnya dalam forum tersebut.
Pendekatan ini dinilai menjadi langkah strategis mengingat tantangan banjir di Lubuk Linggau yang kerap terjadi di sejumlah titik rawan. Dengan keterlibatan aktif camat, diharapkan deteksi dini, edukasi masyarakat, hingga koordinasi lintas sektor dapat berjalan lebih efektif.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kota Lubuklinggau, Ika Aguspiannor menekankan pentingnya memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan. Ia berharap rakor ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga melahirkan aksi nyata di lapangan.
“Kolaborasi dan koordinasi harus semakin solid. Dengan begitu, penanggulangan bencana, khususnya banjir di Lubuk Linggau, bisa dilakukan lebih optimal dan berkelanjutan,” katanya.















