Muratara – Musi Rawas Utara (Muratara) kembali dilanda banjir besar yang melumpuhkan aktivitas warga di sejumlah wilayah. Hingga Sabtu (9/5/2026), genangan air belum juga surut dan justru mulai mengisolasi beberapa desa setelah lima jembatan gantung putus diterjang arus deras.
Bencana hidrometeorologi yang melanda dua kecamatan, yakni Karang Jaya dan Rupit, kini berdampak pada sedikitnya 11.468 jiwa. Ribuan rumah warga terendam dengan ketinggian air mencapai lebih dari satu meter.
Tim gabungan dari BPBD, aparat keamanan, dan relawan masih terus melakukan evakuasi terhadap warga yang berada di titik rawan banjir.
Kabid Kesiapsiagaan BPBD Muratara, Mugono, mengatakan banjir dipicu meluapnya sungai akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Muratara sejak Kamis (7/5/2026).
Sebanyak 2.867 rumah warga dilaporkan terendam di dua kecamatan terdampak.
Di Kecamatan Karang Jaya, banjir merendam Desa Lubuk Kumbung, Sukaraja, Muara Batang Empu, Rantau Telang, Tanjung Agung, Sukamenang, Muara Tiku, Terusan, Embacang, hingga Kelurahan Karang Jaya.
Sementara di Kecamatan Rupit, desa terdampak meliputi Tanjung Beringin, Noman, Noman Baru, Batu Gajah, Batu Gajah Baru, Maur Lama, dan Maur Baru.
“Total korban terdampak mencapai 11.468 jiwa,” ujar Mugono.
Di tengah kepanikan warga menyelamatkan diri dan harta benda, musibah tragis terjadi. Seorang balita berusia tiga tahun dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam saat bermain di sekitar genangan banjir.
Korban diduga lepas dari pengawasan ketika kedua orang tuanya sibuk mengemasi barang di rumah yang terendam air.
“Korban ditemukan warga sudah dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dibawa ke RSUD Rupit,” jelas Mugono.
Peristiwa itu menambah daftar duka di tengah bencana banjir yang terus meluas di Muratara.
Selain merendam permukiman, derasnya arus sungai juga menyebabkan lima jembatan gantung putus. Infrastruktur tersebut sebelumnya menjadi akses vital penghubung antar desa.
Jembatan yang rusak berada di wilayah Desa Tanjung Beringin, Terusan, Batu Gajah, dan Noman.
Putusnya jembatan membuat mobilitas warga terganggu dan memperumit proses distribusi bantuan serta evakuasi korban banjir.
“Ini sangat menyulitkan proses evakuasi warga terdampak,” kata Mugono.
Pemerintah daerah menetapkan status siaga banjir di Muratara menyusul potensi peningkatan debit air Sungai Rupit apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama warga yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rendah.
“Kami meminta warga segera mengamankan barang penting dan menyiapkan langkah evakuasi jika debit air terus meningkat,” tegas Mugono.









