PALEMBANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berhenti sementara selama libur sekolah berdampak langsung pada anjloknya harga telur ayam di Sumatera Selatan. Berkurangnya penyerapan membuat stok telur menumpuk di tingkat peternak hingga harga jual merosot jauh di bawah harga acuan pemerintah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel, Ruzuan Efendi, mengungkapkan program MBG selama ini menyerap sekitar 140 ton telur ayam setiap pekan. Namun, sejak sekolah memasuki masa libur, permintaan tersebut praktis terhenti, sementara produksi tetap berjalan normal.
“Permintaan untuk MBG sekitar 140 ton per minggu. Karena sekolah libur, program MBG juga berhenti sementara sehingga stok telur menumpuk,” ujar Ruzuan, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat keseimbangan antara produksi dan permintaan terganggu. Apalagi sejak program MBG diluncurkan, banyak peternak meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan telur yang terus bertambah.
Ia menjelaskan, fenomena ini tidak hanya terjadi di Sumsel, tetapi juga dialami sejumlah daerah lain yang menjadi pemasok telur untuk program MBG.
“Dengan adanya MBG, produksi telur meningkat karena banyak peternak melihat peluang usaha. Sekarang produksinya tetap tinggi, tetapi penyerapannya turun karena sekolah libur. Akibatnya harga ikut terkoreksi,” katanya.
Harga telur yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp29 ribu per kilogram kini terus mengalami penurunan hingga menyentuh Rp23 ribu per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah harga acuan pemerintah yang dipatok sebesar Rp30 ribu per kilogram.
“Turunnya bertahap, dari Rp29 ribu, kemudian Rp27 ribu, Rp25 ribu, hingga sekarang sekitar Rp23 ribu per kilogram,” jelasnya.
Meski harga turun cukup tajam, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel mengaku belum menerima laporan atau keluhan dari peternak. Pemerintah juga memastikan distribusi jagung subsidi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog tetap berjalan guna membantu menekan biaya produksi.
Ruzuan optimistis kondisi pasar akan kembali normal setelah aktivitas belajar mengajar dimulai kembali dan program MBG kembali berjalan.
“Kami berharap setelah sekolah masuk dan MBG kembali dilaksanakan, permintaan meningkat sehingga harga telur kembali stabil,” pungkasnya.









