Menu

Mode Gelap

News

Hadapi Kemarau Ekstrem, BPBD Sumsel Minta Bantuan 10 Helikopter

badge-check


Pantauan dari udara70 hektare lahan gambut yang masih terbakar di kawasan Desa Mangsang, Kecamatan Bayung Lencir, Muba. Foto : Dok Muba Perbesar

Pantauan dari udara70 hektare lahan gambut yang masih terbakar di kawasan Desa Mangsang, Kecamatan Bayung Lencir, Muba. Foto : Dok Muba

Palembang – Menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi lebih ekstrem tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan (BPBD Sumsel) mulai menyiapkan strategi berbasis teknologi dan dukungan udara. Langkah ini diambil seiring peringatan musim kemarau panjang yang berisiko memperparah kebakaran, terutama di kawasan gambut.

Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan permintaan bantuan ke pemerintah pusat berupa 10 unit helikopter. Armada ini akan difungsikan untuk patroli udara serta pemadaman melalui metode waterbombing.

“Total yang kita ajukan ada delapan helikopter waterbombing dan dua untuk patroli. Tapi jumlah yang disetujui masih menunggu keputusan pusat,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Tak hanya mengandalkan pemadaman saat api muncul, BPBD juga mendorong langkah pencegahan berbasis cuaca. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), yang diusulkan untuk menjaga kelembapan lahan sejak awal musim kemarau.

Dengan luas gambut mencapai sekitar 2 juta hektare atau hampir seperempat wilayah Sumsel, upaya pembasahan dinilai krusial untuk mencegah kebakaran meluas dan sulit dikendalikan.

“OMC penting agar lahan tetap basah, khususnya gambut. Jadi saat puncak kemarau, kita masih punya cadangan air,” kata Iqbal.

Selain pendekatan teknologi, BPBD juga menekankan keterlibatan sektor swasta. Perusahaan perkebunan dan kehutanan diminta meningkatkan kesiapsiagaan dengan mengaktifkan regu pemadam kebakaran internal serta memastikan infrastruktur air seperti embung dan kanal berfungsi optimal.

Langkah ini dianggap penting karena sebagian besar wilayah rawan karhutla berada di area konsesi perusahaan. Tanpa kesiapan di tingkat tapak, upaya pemadaman akan lebih sulit dilakukan.

“Sejauh ini, tiga daerah telah menetapkan status siaga karhutla, yakni Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Musi Banyuasin. Wilayah lain dengan tingkat kerawanan tinggi juga didorong segera mengambil langkah serupa, terutama menjelang peralihan musim yang diprediksi mulai terjadi pada Mei,”kata dia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hasil RDP Komisi II DPR RI-Pansus Perkebunan DPRD Sumsel Putuskan Cabut HGU PT Melania

21 Mei 2026 - 19:13 WIB

Pemprov Sumsel Kirim Bantuan Logistik untuk Warga Terdampak Kebakaran di Pagar Gunung

21 Mei 2026 - 16:17 WIB

Sultan Muda Goes to Lahat, BSB Dorong Anak Muda Jadi Penggerak UMKM Berdaya Saing

21 Mei 2026 - 16:03 WIB

Dongkrak Digitalisasi UMKM, Bank Sumsel Babel Gelar Promo Belanja Rp157 Spesial HUT Lahat ke-157

21 Mei 2026 - 15:59 WIB

Tengah Malam, Dua Gajah Liar Masuk Permukiman Warga Air Sugihan OKI

21 Mei 2026 - 15:56 WIB

Trending di News