Menu

Mode Gelap

News

Herman Deru Dorong Vendor Lokal, Pasokan FAME Tersendat Bikin Biosolar Mengular

badge-check


Antrean BBM Solar di SPBU KM7 Palembang. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id Perbesar

Antrean BBM Solar di SPBU KM7 Palembang. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id

PALEMBANG – Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sumatera Selatan ternyata tidak hanya dipicu meningkatnya permintaan Biosolar. Gangguan pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan campuran utama dalam produksi Biosolar, turut menjadi persoalan yang kini disoroti Pemerintah Provinsi Sumsel.

Dari hasil rapat antara Pemprov Sumsel dan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, terungkap distribusi FAME dari sejumlah pemasok mengalami hambatan. Kondisi tersebut membuat pasokan bahan baku untuk proses blending Biosolar tidak tiba sesuai jadwal.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan persoalan tersebut diketahui setelah pemerintah daerah meminta penjelasan atas antrean Biosolar yang dalam beberapa hari terakhir semakin panjang.

“Beberapa hari belakangan ini kita tidak bisa tutup mata bahwa antrean semakin panjang,” ujar Herman Deru usai rapat di Griya Agung Palembang, Selasa (8/9/2026).

Menurut Deru, Pertamina Patra Niaga mengakui adanya hambatan dalam distribusi FAME sebelum bahan tersebut diolah melalui proses pencampuran menjadi Biosolar dan disalurkan ke SPBU.

“Jadi ketika kita tanyakan dengan Pertamina Patra Niaga, ternyata memang ada hambatan di distribusi FAME-nya. Jadi sebelum di-blending menjadi Biosolar yang akan didistribusikan ke SPBU,” katanya.

Gangguan distribusi membuat Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel harus mencari alternatif pasokan dari wilayah lain. Salah satunya dengan mendatangkan FAME dari Lampung untuk menjaga produksi dan ketersediaan Biosolar.

Herman Deru menilai persoalan tersebut seharusnya dapat diantisipasi sebelum berdampak pada masyarakat.

Menurutnya, stok Biosolar harus dijaga secara berkelanjutan dan tidak boleh sampai kosong akibat keterlambatan pasokan bahan baku.

Ia pun meminta agar seluruh pihak, termasuk para pemasok FAME, duduk bersama membahas persoalan distribusi tersebut.

Deru bahkan mengusulkan agar penggunaan vendor lokal lebih diprioritaskan. Pasalnya, Sumsel memiliki potensi perkebunan kelapa sawit yang cukup besar dengan luas mencapai sekitar 1,4 juta hektare.

“Nah, maka tadi saya sarankan untuk kita undang vendor itu. Kita juga sarankan kepada pemangku kebijakan, kenapa tidak ambil khusus vendor dari lokal saja? Jangan yang dari Sulawesi, dari Dumai jauh-jauh itu,” ungkapnya.

Region Manager Retail Sales PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Ayub Ritto membenarkan adanya sejumlah keterlambatan pengiriman FAME dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menjelaskan FAME bukan produk yang diproduksi Pertamina. Bahan tersebut dipasok melalui kerja sama dengan sejumlah perusahaan yang telah ditetapkan sebagai vendor.

Terdapat tujuh perusahaan pemasok FAME untuk kebutuhan tersebut, yakni Wilmar Bioenergi Indonesia, Pelita Agung Agriindustri, Tunas Baru Lampung, Sari Dumai Sejati, Energi Unggul Persada, LDC Indonesia, dan Multinavita Sulawesi.

Menurut Ayub, jadwal pengiriman dari vendor sebenarnya telah disusun sebelumnya. Namun, apabila pengiriman mengalami hambatan, Pertamina meminta pemasok memberikan penjelasan dan memenuhi komitmen pasokan.

“Ketika ada kendala kami pasti tanya sama vendor kenapa ada kendala. Memang ada beberapa keterlambatan di bulan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, para vendor tersebut pada dasarnya telah memiliki kewajiban dan komitmen memasok FAME sesuai kebutuhan.

“Vendor-vendor ini sudah ditetapkan dan sebenarnya dalam konteks mereka siap kirim. Tapi ketika dia tidak terkirim, pasti dia punya justifikasi dan kita pun sudah menyampaikan kepada mereka untuk memenuhi komitmen yang diminta,” katanya.

Selain gangguan distribusi FAME, Pertamina mencatat adanya peningkatan permintaan Biosolar sepanjang Agustus hingga September 2026.

Menurut Ayub, kenaikan konsumsi diduga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dan sektor usaha menjelang akhir tahun.

“Di bulan Agustus dan September ini kami melihat ada beberapa peningkatan permintaan. Khusus solar ini meningkat. Kalau kami melihat karena mereka mengejar akhir tahun, jadi peningkatannya cukup tajam,” bebernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Penerbangan Palembang-Jakarta Kembali Normal, 10.624 Penumpang Sempat Terdampak

8 September 2026 - 18:08 WIB

Lahan HGU Tak Berulang Terbakar, Herman Deru Minta BPN Turun Tangan

8 September 2026 - 18:04 WIB

Dampak Kabut Asap dan Meningkatnya ISPA, Wali Kota Palembang Alihkan KBM ke Pembelajaran Jarak Jauh Mulai 9 September

8 September 2026 - 17:59 WIB

Fakta Baru Kasus Banyuasin: Sebelum Dibunuh dan Ditemukan Tinggal Kerangka, Kakak-Beradik Sempat Diperkosa

8 September 2026 - 17:53 WIB

Terkuak Usai 5 Tahun Hilang, Kakak-Beradik di Banyuasin Ditemukan Tinggal Kerangka dan Jadi Korban Pembunuhan

8 September 2026 - 17:49 WIB

Trending di Headline