Menu ✖

Mode Gelap

News

ISPA Palembang Masih Tinggi, Kertapati Jadi Wilayah dengan Kasus Terbanyak

badge-check


Kabut Asap yang menyelimuti Palembang, Kamis (22/10/2026). Foto : Urban Id Perbesar

Kabut Asap yang menyelimuti Palembang, Kamis (22/10/2026). Foto : Urban Id

PALEMBANG — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Palembang masih menjadi perhatian di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menyelimuti wilayah Sumatera Selatan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang mencatat 10.975 kasus hingga minggu ketiga Oktober 2026, dengan Kecamatan Kertapati menjadi wilayah penyumbang kasus terbanyak.

Meski jumlah penderita masih tinggi, data mingguan menunjukkan tren penurunan. Pada minggu ke-41, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 3.958 kasus, turun dibandingkan minggu ke-40 yang mencapai 4.341 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Fenty Aprina, mengatakan penurunan tersebut menjadi perkembangan yang perlu dicermati, tetapi belum cukup untuk mengabaikan risiko gangguan pernapasan di masyarakat.

“Untuk kasus mingguan, jumlah kasus di minggu ke-41 itu 3.958 kasus, menurun dari minggu ke-40 sebanyak 4.341 kasus. Kecamatan yang tertinggi itu Kecamatan Kertapati,” ujar Fenty, Rabu (21/10/2026).

September Catat Kasus Tertinggi Sepanjang 2026

Berdasarkan catatan Dinkes Palembang, jumlah kasus ISPA sepanjang September 2026 mencapai 17.434 kasus. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.

“Sementara itu, jumlah kasus pada Oktober hingga minggu ketiga tercatat sebanyak 10.975 kasus. Data tersebut masih dapat berubah seiring bertambahnya laporan dari fasilitas pelayanan kesehatan,”kata dia.

Fenty mengatakan kasus ISPA pada Oktober mulai mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, pemerintah kota tetap mewaspadai kemungkinan peningkatan kasus, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

“Memang ISPA masih tinggi, tetapi minggu ini agak turun sedikit. Kasus September merupakan yang tertinggi sepanjang tahun 2026 ini,” katanya.

Usia Produktif Paling Banyak Tercatat

Dari kelompok umur, penderita ISPA paling banyak tercatat pada rentang usia 19–59 tahun, yakni sebanyak 333 kasus berdasarkan data yang disampaikan Dinkes. Kasus pada anak-anak usia 5–9 tahun dan kelompok usia 0–4 tahun juga masih menjadi perhatian.

“Paparan polusi udara, termasuk partikel halus dari kabut asap, dapat memperburuk gangguan pernapasan. Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung perlu mendapat perhatian khusus selama kondisi udara tidak sehat,”kata dia.

Dirinya mengimbau masyarakat agar dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus apabila harus beraktivitas di luar, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PM2.5 Palembang Tembus 1.036,4, Kabut Asap Masuk Level Berbahaya

22 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Gagal Temui Herman Deru, Mahasiswa Segel Kantor Gubernur dan Nyatakan Mosi Tidak Percaya

21 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Ratu Dewa Dorong Pesantren Jadi Motor Ekonomi Umat dan Benteng Moral Generasi Muda

21 Oktober 2026 - 19:39 WIB

BMKG Tegaskan Dry Ice Bukan Penyerap Asap Karhutla, Ini Fungsi Sebenarnya.

21 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Film Anak Indonesia Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua Raih Penghargaan Global Peace and Friendship, Siap Diputar di Festival Film Eropa

21 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Trending di News