PALEMBANG — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Palembang masih menjadi perhatian di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menyelimuti wilayah Sumatera Selatan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang mencatat 10.975 kasus hingga minggu ketiga Oktober 2026, dengan Kecamatan Kertapati menjadi wilayah penyumbang kasus terbanyak.
Meski jumlah penderita masih tinggi, data mingguan menunjukkan tren penurunan. Pada minggu ke-41, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 3.958 kasus, turun dibandingkan minggu ke-40 yang mencapai 4.341 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Fenty Aprina, mengatakan penurunan tersebut menjadi perkembangan yang perlu dicermati, tetapi belum cukup untuk mengabaikan risiko gangguan pernapasan di masyarakat.
“Untuk kasus mingguan, jumlah kasus di minggu ke-41 itu 3.958 kasus, menurun dari minggu ke-40 sebanyak 4.341 kasus. Kecamatan yang tertinggi itu Kecamatan Kertapati,” ujar Fenty, Rabu (21/10/2026).
September Catat Kasus Tertinggi Sepanjang 2026
Berdasarkan catatan Dinkes Palembang, jumlah kasus ISPA sepanjang September 2026 mencapai 17.434 kasus. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.
“Sementara itu, jumlah kasus pada Oktober hingga minggu ketiga tercatat sebanyak 10.975 kasus. Data tersebut masih dapat berubah seiring bertambahnya laporan dari fasilitas pelayanan kesehatan,”kata dia.
Fenty mengatakan kasus ISPA pada Oktober mulai mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, pemerintah kota tetap mewaspadai kemungkinan peningkatan kasus, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
“Memang ISPA masih tinggi, tetapi minggu ini agak turun sedikit. Kasus September merupakan yang tertinggi sepanjang tahun 2026 ini,” katanya.
Usia Produktif Paling Banyak Tercatat
Dari kelompok umur, penderita ISPA paling banyak tercatat pada rentang usia 19–59 tahun, yakni sebanyak 333 kasus berdasarkan data yang disampaikan Dinkes. Kasus pada anak-anak usia 5–9 tahun dan kelompok usia 0–4 tahun juga masih menjadi perhatian.
“Paparan polusi udara, termasuk partikel halus dari kabut asap, dapat memperburuk gangguan pernapasan. Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung perlu mendapat perhatian khusus selama kondisi udara tidak sehat,”kata dia.
Dirinya mengimbau masyarakat agar dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus apabila harus beraktivitas di luar, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya.









