PALEMBANG — Hujan mengguyur Kota Palembang dan sejumlah wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) pada Sabtu (24/10/2026) sore. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan, sementara Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan untuk mengoptimalkan potensi tersebut melalui penyemaian natrium klorida (NaCl).
Hujan terpantau di Palembang dan sejumlah daerah lainnya mulai sekitar pukul 16.29 hingga 16.55 WIB. Kondisi ini terjadi ketika pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumsel meningkat.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, mengatakan potensi pertumbuhan awan hujan sebenarnya telah teridentifikasi melalui data model cuaca BMKG.
“Dapat kami sampaikan bahwa secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan, ditambah dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl,” ujar Siswanto saat dikonfirmasi, Sabtu, (24/10/2026).
Ia menjelaskan, tim OMC memaksimalkan potensi pertumbuhan awan yang diprakirakan terjadi pada 24 Oktober 2026. Dengan demik4/4ian, hujan yang turun dipengaruhi kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan serta upaya modifikasi cuaca yang dilakukan.
“Memang secara data model, tanggal 24 Oktober 2026 diprakirakan akan ada potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC,” katanya.
Hujan Tersebar di Sejumlah Wilayah Sumsel
Berdasarkan citra radar cuaca BMKG, hujan tidak hanya mengguyur Palembang, tetapi juga terpantau di Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Lahat, dan Pagar Alam.
“Hujan juga terpantau di sebagian wilayah Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, serta Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan,”kata dia.
Meski demikian, jumlah curah hujan yang tercatat di setiap lokasi berbeda. Berdasarkan pengukuran alat penakar hujan BMKG pada Sabtu sore, curah hujan di Palembang tercatat sebesar 0,6 milimeter di ARG Jakabaring dan 11 milimeter di AWS Stasiun Klimatologi Sumsel.
Sementara itu, alat penakar hujan ARG Pulau Panggung di Kabupaten Muara Enim mencatat curah hujan sebesar 10 milimeter.
Siswanto menjelaskan, hujan yang terlihat pada citra radar tidak selalu tercatat pada alat penakar hujan. Hal tersebut dapat terjadi karena lokasi hujan tidak tepat berada di titik pemasangan alat pengamatan BMKG.
“Karena itu, perbedaan antara cakupan hujan pada radar dan angka pengukuran di stasiun tertentu tidak serta-merta berarti hujan tidak terjadi di wilayah tersebut,”kata dia.
Masyarakat Diminta Pantau Prakiraan Cuaca
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca, terutama karena kondisi atmosfer dan potensi hujan dapat berbeda antarlokasi.
Informasi cuaca terkini penting diperhatikan untuk mendukung aktivitas sehari-hari sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca.
“Masyarakat dapat mengakses prakiraan cuaca hingga tingkat desa atau kelurahan melalui situs resmi BMKG Cuaca maupun aplikasi InfoBMKG,”kata dia.









