Menu

Mode Gelap

News

15,2 Ton Garam Ditebar ke Awan, Kini Sumsel Bersiap Hadapi Fase Paling Rawan Karhutla

badge-check


Tim BNPB bersama BPBD Sumsel melakukan persiapan melakukan OMC di Sumsel. Foto : Dok. BPBD Sumsel Perbesar

Tim BNPB bersama BPBD Sumsel melakukan persiapan melakukan OMC di Sumsel. Foto : Dok. BPBD Sumsel

Palembang – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang menjadi salah satu upaya pemerintah menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan resmi berakhir. Selama 12 hari pelaksanaan, sebanyak 15,2 ton natrium klorida (NaCl) disemai ke awan potensial hujan untuk menjaga kelembapan lahan. Namun, berakhirnya operasi tersebut justru menjadi awal fase yang dinilai paling krusial karena puncak musim kemarau diperkirakan baru terjadi pada Agustus hingga September 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, Iqbal Alisyahbana, mengatakan Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan Kementerian Kehutanan berlangsung pada 19–30 Juli 2026 menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-YNA.

Selama pelaksanaan, tercatat 19 sorti penerbangan dilakukan dengan menyebarkan 15.200 kilogram atau 15,2 ton bahan semai natrium klorida (NaCl) ke awan-awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

“Operasi ini merupakan bagian dari mitigasi dini pemerintah untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah yang memiliki ekosistem gambut cukup luas,” kata Iqbal, Sabtu (1/8/2026).

Penyemaian awan difokuskan pada kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan intensitas penyemaian terbanyak, disusul Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), hingga Kota Palembang sesuai pergerakan awan potensial.

Iqbal menegaskan OMC tidak bertujuan menciptakan hujan secara instan. Teknologi tersebut hanya mengoptimalkan awan yang telah terbentuk secara alami agar mampu menghasilkan curah hujan yang lebih efektif.

“Tujuan utamanya menjaga kelembapan lahan, terutama lahan gambut, sehingga tidak mudah mengering saat musim kemarau. Dengan kondisi lahan tetap basah, potensi munculnya titik panas maupun kebakaran dapat ditekan,” ujarnya.

Menurutnya, OMC menjadi salah satu bagian dari strategi terpadu penanggulangan karhutla di Sumatera Selatan. Selain modifikasi cuaca, pemerintah juga terus memperkuat patroli darat dan udara, pemantauan titik panas berbasis satelit, kesiapsiagaan helikopter water bombing, hingga edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Efektivitas OMC juga terlihat dari hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan pada 19–30 Juli. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan yang terjadi merupakan hasil perpaduan antara kondisi atmosfer yang mendukung dan pelaksanaan OMC.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan hujan tersebut sempat memutus rangkaian hari tanpa hujan (HTH) di sebagian besar wilayah. Saat ini mayoritas daerah mencatat HTH berkisar enam hingga sepuluh hari.

Meski demikian, kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah karakter musim kemarau tahun ini.

“Secara klimatologis, akumulasi curah hujan sepanjang Juli 2026 di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan masih berada di bawah normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis,” katanya.

BMKG juga masih mencatat sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 40 hari. Kondisi tersebut menunjukkan tingkat kekeringan di beberapa daerah masih tergolong tinggi sehingga potensi kebakaran tetap perlu diwaspadai.

Wandayantolis mengatakan tantangan terbesar justru berada di depan. Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau di Sumatera Selatan diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September, sedangkan musim kemarau baru diprediksi berakhir pada pertengahan Oktober 2026.

Di sisi lain, fenomena El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kendati demikian, BMKG memperkirakan musim kemarau tahun ini tidak akan sekering peristiwa El Nino ekstrem yang terjadi pada 1997 maupun 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perluas Akses Pasar, Rumah BUMN Pertamina Hadirkan 13 UMKM di Jambore Provinsi Sulawesi Tengah

2 Agustus 2026 - 19:29 WIB

Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Sampaikan Duka Cita Atas Insiden Tanah Bumbu, Pastikan Mobil Tangki Tidak Terdaftar sebagai Armada Operasional

2 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Kunjungi Booth MyPertamina di GIIAS 2026, Ikuti Beragam Aktivitas dan Dapatkan Hadiahnya

2 Agustus 2026 - 13:47 WIB

Ramaikan Booth MyPertamina, Sean Gelael Berbagi Pengalaman Dunia Balap ke Pengunjung GIIAS 2026

2 Agustus 2026 - 13:35 WIB

BPBD Sumsel: 101 Bencana Terjadi dalam Tujuh Bulan, Kini Ancaman Bergeser ke Karhutla

2 Agustus 2026 - 12:45 WIB

Trending di News