Palembang – Kinerja perdagangan luar negeri Sumatera Selatan mulai menunjukkan tekanan serius pada awal 2026. Di tengah gejolak harga energi dunia dan inflasi yang terus meningkat, ekspor daerah ini tercatat mengalami penurunan tajam hingga hampir 39 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat nilai ekspor April 2026 hanya mencapai 1,25 miliar dolar AS atau terkontraksi 38,89 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala BPS Sumsel, M Wahyu Yulianto, mengatakan tekanan inflasi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi perlambatan ekonomi dan perdagangan daerah.
“Dari 425 komoditas yang kami pantau, sebanyak 190 komoditas mengalami inflasi,” ujarnya.
Menurut Wahyu, lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) memberi efek domino terhadap berbagai sektor industri, khususnya kelompok non-makanan seperti transportasi, properti, dan perumahan.
Kenaikan biaya distribusi dan operasional akibat mahalnya energi membuat daya saing sejumlah komoditas Sumsel ikut melemah di pasar ekspor.
Tak hanya ekspor, neraca perdagangan Sumsel juga mengalami tekanan. Meski masih mencatat surplus sebesar 947,11 juta dolar AS, pergerakan neraca perdagangan tercatat terkontraksi hingga 47,28 persen secara tahunan.
Wahyu menjelaskan kondisi ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, termasuk ketidakpastian ekonomi dunia serta dampak berkelanjutan dari kenaikan harga minyak internasional.
“Sejak Januari hingga Maret Sumsel mengalami inflasi. Dampaknya terasa terhadap aktivitas perdagangan dan ekspor,” katanya.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi daerah. Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumsel, Rahmadi Murwanto, menyebut kondisi ekonomi Sumsel secara umum masih cukup stabil.
Ia menilai konsumsi masyarakat dan investasi pemerintah pada awal tahun menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tekanan global.
Selain itu, aktivitas ekonomi dari sektor unggulan seperti sawit dan karet mulai menunjukkan pemulihan yang berdampak pada penerimaan negara.
“Pendapatan negara di Sumsel mencapai Rp3,19 triliun dan penerimaan pajak masih menjadi penyumbang terbesar seiring membaiknya sektor sawit dan karet,” ujarnya.









