Palembang – Dinkes Sumsel terus memperkuat upaya deteksi dini dan edukasi terkait HIV/AIDS setelah jumlah kasus yang tercatat hingga April 2026 mencapai 319 orang. Meski tidak mengalami lonjakan signifikan dalam dua bulan terakhir, Palembang masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi di Sumsel.
Situasi ini membuat pemerintah daerah lebih fokus pada pendekatan pencegahan melalui skrining langsung ke lapangan hingga edukasi ke sekolah-sekolah.
Pengelola Program HIV/AIDS Dinkes Sumsel, Irma Tiara Rizki, mengatakan tren kasus pada periode Maret hingga April relatif stabil. Namun, Kota Palembang masih mendominasi temuan kasus dibandingkan daerah lain.
“Untuk Maret-April tidak ada peningkatan signifikan. Tetapi memang kasus terbanyak masih berada di Kota Palembang sebagai ibu kota provinsi,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Menurut Irma, mayoritas kasus baru masih ditemukan pada kelompok usia dewasa. Hal itu sejalan dengan pola pemeriksaan yang banyak dilakukan terhadap individu yang merasa memiliki risiko tertular HIV.
“Rata-rata yang diperiksa memang orang-orang yang merasa berisiko, dan sejauh ini masih didominasi usia dewasa,” katanya.
Di tengah tantangan penanganan HIV, Dinkes Sumsel kini mengintensifkan program mobile clinic atau layanan pemeriksaan bergerak di sejumlah wilayah seperti Palembang, Banyuasin, Prabumulih, hingga Ogan Komering Ilir (OKI).
Program tersebut dilakukan dengan menggandeng komunitas untuk membangun pendekatan persuasif kepada kelompok rentan atau populasi kunci.
Namun, Irma mengakui masih ada masyarakat yang enggan menjalani tes HIV meskipun bersedia mengikuti penyuluhan kesehatan.
“Ada yang menerima untuk diperiksa karena sudah ada pendekatan dari komunitas, tapi ada juga yang hanya mau ikut penyuluhan dan menolak dites,” ungkapnya.
Selain skrining, upaya pencegahan juga diarahkan ke kalangan pelajar melalui edukasi kesehatan reproduksi dan pemahaman tentang penularan HIV. Dinkes menilai kesadaran remaja mulai membaik, terutama terkait bahaya seks bebas dan pentingnya menjaga perilaku sehat.
“Anak-anak sekolah sekarang sudah lebih memahami bahaya seks bebas dan informasi yang benar terkait penularan HIV sebagai langkah pencegahan sejak dini,” jelasnya.









